Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Susu Kental Manis Bukan Pengganti ASI, Dokter Ingatkan Risiko Gangguan Gizi Anak

Susu Kental Manis Bukan Pengganti ASI, Dokter Ingatkan Risiko Gangguan Gizi Anak

  • account_circle Ikram Salim
  • calendar_month Rab, 19 Agu 2026
  • visibility 58

Ternate, majangpolis.com – Penggunaan susu kental manis sebagai pengganti susu maupun sumber asupan gizi bagi anak masih menjadi perhatian. Dokter mengingatkan masyarakat tidak keliru memahami susu kental manis sebagai susu yang dapat memenuhi kebutuhan gizi anak.

Hal itu disampaikan dalam kegiatan edukasi gizi yang oleh Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) terkait percepatan penurunan stunting di Maluku Utara di Jati Hotel, Kota Ternate, Rabu (19/8/2026).

Masalah pola konsumsi anak, pemberian makanan bergizi seimbang, serta bahaya kesalahan persepsi terhadap susu kental manis menjadi salah satu isu serius dalam kegiatan yang mempertemukan seluruh kader Muslimat NU Malut itu.

Talkshow tersebut menghadirkan narasumber yakni, Sekretaris Jenderal Yayasan Insan Cendekia Indonesia, Satria Yudistira, Wakil Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU Sekretaris Jenderal Yayasan Insan Cendekia Indonesia, Satria Yudistira,, dan Kepala Seksi

Kesehatan Masyarakat dan Gizi Dinas Kesehatan Malut, Dr. Aspar Abdul Ganis, SKM.
Sekretaris Jenderal Yayasan Insan Cendekia Indonesia, Satria Yudistira, menjelaskan susu kental manis memiliki kandungan gula yang tinggi sehingga tidak tepat diberikan kepada bayi maupun dijadikan pengganti ASI.

“Kesalahan konsumsi susu kental manis sebagai pengganti susu atau dikonsumsi secara rutin dapat berkontribusi terhadap tidak optimalnya pemenuhan gizi anak,” jelas Satria.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pola konsumsi, tetapi juga menyangkut rendahnya literasi gizi keluarga. Dia mengaku masih ditemukan anggapan di masyarakat bahwa susu kental manis merupakan susu bergizi yang dapat diberikan kepada anak.

Padahal, kata Satria, susu kental manis lebih tepat digunakan sebagai bahan tambahan atau pemanis dalam makanan dan minuman, bukan sebagai sumber utama pemenuhan kebutuhan gizi anak.

Ia menilai, salah persepsi tersebut turut dipengaruhi oleh iklan, harga yang relatif murah, mudah diperoleh, serta kebiasaan yang berkembang di lingkungan keluarga.

Sekretaris Jenderal Yayasan Insan Cendekia Indonesia, Satria Yudistira saat mempresentasi materi.

“Orang tua mungkin tidak berani memberikan minuman berwarna kepada anak karena mengetahui kandungan gulanya. Tetapi susu kental manis yang berwarna putih masih sering dianggap sebagai susu. Padahal kandungan gulanya tinggi,” ujarnya.
ASI Eksklusif hingga Enam Bulan

Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat dan Gizi Dinas Kesehatan Malut, Dr. Aspar Abdul Ganis, SKM, juga mengingatkan pentingnya pemberian ASI eksklusif bagi bayi sejak lahir hingga usia enam bulan, kecuali terdapat kondisi medis tertentu yang membuat pemberian ASI tidak memungkinkan.

Setelah usia enam bulan, bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI (MPASI) dengan memperhatikan tekstur, jumlah, kualitas, serta keberagaman makanan. Pemberian ASI juga tetap dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun.

“ASI merupakan makanan biologis yang paling sesuai bagi bayi dan mengandung berbagai zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan serta perlindungan tubuh,” jelas Aspar.
Ia menekankan pentingnya memperhatikan periode seribu hari pertama kehidupan, yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Menurutnya, periode tersebut merupakan masa kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk perkembangan otak dan kemampuan kognitif.

“Kalau periode 1.000 hari pertama kehidupan ini terlewatkan, risikonya dapat berdampak pada masalah gizi, baik gizi kurang, gizi buruk maupun stunting,” katanya.

Maluku Utara Masih Hadapi Persoalan Stunting

Aspar juga menyinggung kondisi stunting di Maluku Utara. Berdasarkan data SGSI pada 2024, prevalensi stunting Maluku Utara berada di angka 23,2 persen, turun dari sekitar 23,7 persen pada 2023.

Angka tersebut, menurutnya, masih berada di atas angka nasional yang disebut berada di kisaran 19,8 persen.

Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama melalui peningkatan literasi gizi masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki bayi dan balita.
“Stunting harus dicegah sejak awal. Karena itu, pemenuhan gizi pada masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun harus benar-benar diperhatikan,” ujarnya.

Anak Perlu Makanan Beragam dan Seimbang

Selain persoalan susu kental manis, Aspar juga menyoroti pola makan anak yang masih kurang beragam. Dalam sejumlah pengamatan di lapangan, masih ditemukan balita yang jarang mengonsumsi sumber protein seperti ikan, telur maupun daging.
Bahkan, terdapat anak yang menolak makanan tertentu sehingga orang tua kesulitan memenuhi kebutuhan gizinya.

Karena itu, orang tua diminta tidak hanya memperhatikan jumlah makanan, tetapi juga memastikan makanan yang diberikan beragam dan seimbang.

“Tidak ada satu jenis makanan yang memiliki semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, makanan harus beragam, ada sumber karbohidrat, protein, sayur dan buah,” jelas Aspar.

Ia juga mengingatkan orang tua agar membatasi makanan dan minuman tinggi gula yang dikonsumsi anak, termasuk jajanan, kue, minuman manis dan susu dengan kandungan gula tinggi.
Konsumsi gula berlebihan, selain berpotensi mengganggu pola makan anak, juga dapat meningkatkan risiko obesitas dan masalah kesehatan gigi.

Edukasi Dinilai Jadi Kunci
Untuk mengatasi persoalan tersebut, lanjut Aspar, pihaknya mendorong penguatan edukasi gizi melalui tenaga kesehatan, keluarga dan komunitas masyarakat.
Menurutnya, edukasi tidak cukup hanya dilakukan dalam kegiatan formal, tetapi harus diteruskan oleh orang tua kepada keluarga, tetangga dan lingkungan sekitar.

“Kita perlu meluruskan persepsi dan meningkatkan literasi gizi keluarga. Setelah mendapatkan informasi, harapannya masyarakat bisa menerapkan praktik pemberian makanan bergizi seimbang di rumah,” tandasnya.

Ia berharap kegiatan edukasi tersebut dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk lebih kritis terhadap informasi pangan dan iklan produk, sekaligus lebih memahami kebutuhan gizi bayi dan balita. (ikh)

  • Penulis: Ikram Salim

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Resahkan Warga Ternate, Pelaku Begal Payudara Berhasil Ditangkap Polisi

    Resahkan Warga Ternate, Pelaku Begal Payudara Berhasil Ditangkap Polisi

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2026
    • account_circle Ikram Salim
    • visibility 273
    • 0Komentar

    Ternate, majangpolis.com – Tim gabungan Resmob Polres Ternate, Resmob Polsek Ternate Utara, dan Resmob Polsek Ternate Selatan berhasil mengungkap kasus begal payudara yang selama ini meresahkan masyarakat Kota Ternate. Seorang pria berinisial MZAK alias Koce (46) ditangkap setelah diduga melakukan aksi serupa di sejumlah lokasi berbeda dalam Kota Ternate. Kasus tersebut terungkap setelah adanya laporan […]

  • Diduga Aniaya Warga, Kades Gamsungi Dilaporkan ke Polres Halmahera Barat

    Diduga Aniaya Warga, Kades Gamsungi Dilaporkan ke Polres Halmahera Barat

    • calendar_month Ming, 5 Apr 2026
    • account_circle Ikram
    • visibility 265
    • 0Komentar

    Jailolo, majangpolis.com – Dugaan tindak penganiayaan di Desa Gamsungi, Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera Barat. Peristiwa tersebut menimpa Rendi, warga Kelurahan Marikurubu, Kota Ternate dan kini telah dilaporkan ke Polres Halbar oleh korban melalui kuasa hukumnya. Kuasa hukum Rendi, Dealfrit Kaerasa mengungkapkan, insiden bermula pada Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 22.00 WIT. Saat itu, Rendi bersama […]

  • Melihat Lebih Dekat Kondisi Terkini Sekolah Rakyat di Ternate setelah Dikunjungi Wapres Gibran

    Melihat Lebih Dekat Kondisi Terkini Sekolah Rakyat di Ternate setelah Dikunjungi Wapres Gibran

    • calendar_month Kam, 23 Apr 2026
    • account_circle Ikram Salim
    • visibility 410
    • 0Komentar

    Ternate, majangpolis.com – Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SMP) 26 Ternate resmi beroperasi sejak 14 Juli 2025, membawa angin segar bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera di Ternate. Sekolah ini merupakan bagian dari kategori Sekolah Kebangsaan 1A dan telah berjalan selama hampir 10 bulan, kini memasuki semester kedua. Kepala Sekolah Rakyat SMP 26 Ternate Manton La Usma […]

  • Didukung Pemda Kepulauan Sula, Amelia Siap Tampil di Nasional Miss Hijab

    Didukung Pemda Kepulauan Sula, Amelia Siap Tampil di Nasional Miss Hijab

    • calendar_month Sen, 20 Apr 2026
    • account_circle Sahbudin Yunus
    • visibility 447
    • 0Komentar

    Sanana, majangpolis.com – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, mendorong Amelia Taher untuk mengikuti ajang Nasional Miss Hijab yang akan berlangsung pada November 2026 mendatang. Amelia Taher, yang juga putri asal Kepulauan Sula itu merupakan mahasiswi Universitas Terbuka (UT) di Ternate. Pemda setempat menyatakan komitmennya untuk mendukung Amelia untuk mampu bersaing di tingkat […]

  • Misteri Begal Payudara di Ternate Terungkap, Polisi Ungkap 11 Lokasi Aksi Pelaku

    Misteri Begal Payudara di Ternate Terungkap, Polisi Ungkap 11 Lokasi Aksi Pelaku

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2026
    • account_circle Ikram Salim
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Ternate, majangpolis.com – Misteri begal payudara Kota Ternate, Maluku Utara yang berlangsung selama setahun akhirnya terungkap. Tim gabungan Resmob Polres Ternate, Resmob Polsek Ternate Utara, dan Resmob Polsek Ternate Selatan mengungkap pelaku yang diketahui bernama Muhammad Zaid A. Kombry alias Koce (46). Pelaku ditangkap setelah diduga menjadi pelaku serangkaian aksi pelecehan seksual terhadap perempuan di […]

  • BBM Non-Subsidi Naik, Pertamax di Maluku Utara Tembus Rp16.650 per Liter

    BBM Non-Subsidi Naik, Pertamax di Maluku Utara Tembus Rp16.650 per Liter

    • calendar_month Rab, 10 Jun 2026
    • account_circle Ikram Salim
    • visibility 228
    • 0Komentar

    Ternate, majangpolis.com – Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi kembali mengalami kenaikan signifikan mulai, Rabu (10/6/2026). Kenaikan harga terjadi pada sejumlah jenis BBM Pertamina, termasuk Pertamax yang di wilayah Maluku dan Papua kini dijual sebesar Rp16.650 per liter. Kenaikan harga tersebut dilakukan di tengah meningkatnya harga minyak dunia yang dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. […]

expand_less