Breaking News
light_mode
Beranda » Edukasi » Negara Takut Dikritik

Negara Takut Dikritik

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 25 Mei 2026
  • visibility 174

Oleh: Fadli Kayoa

(Jurnalis)

Situasi demokrasi Indonesia hari-hari ini memprihatinkan. Terutama pada aspek kebebasan berpendapat, berkumpul dan berserikat. Hal tersebut dilihat dari banyak kasus kriminalisasi aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), masyarakat adat, kekerasan dan teror terhadap jurnalis. Bahkan belakangan nonton film Pesta Babi karya Dandhy Dwi Laksono pun dibubarkan.

Dua tahun terakhir saat negara terlihat ketakutan dengan kritikan, diskusi dan nobar. Pola yang semestinya tidak dapat ditolerir di era Reformasi yang menjamin kebebasan berpendapat, berkumpul dan berserikat.

Indonesia seperti kembali ke era 32 tahun lalu atau kepemimpinan Soeharto. Saat berkumpul, nobar dan diskusi kritik kebijakan kekuasaan dilarang, pemberitaan kritis di bredel dan penangkapan terhadap aktivis yang dianggap mengganggu stabilitas negara.

Padahal seyogyanya kritik terhadap kebijakan negara baik secara langsung, maupun melalui karya bagian penting menjaga demokrasi Indonesia tetap sehat dan tumbuh. Namun mungkin hanya jadi bualan di rezim militeristik ini, sebab didepan publik mereka bisa mengklaim membela buruh saat hari buruh, membela petani, membela kebebasan dan demokrasi.

Tapi kenyataannya semua itu hanya lip service. Faktanya rezim hari ini mengarah pada kembalinya dwi fungsi militer. Karena semua kebijakan secara terang-terangan melibatkan militer (Tentara), bahkan mereka ikut mengontrol sejumlah proyek nasional pemerintah. Mereka juga kerap terlibat dalam membubarkan diskusi maupun nobar.

Kasus terbaru nobar film Pesta Babi karya Dandhy Dwi Laksono dibubarkan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Ternate sebanyak dua kali. Alasanya film tersebut menyulut provokasi, dan SARA. Padahal Film karya Whatsdog itu mengangkat perjuangan masyarakat adat Papua berhadap-hadapan perusakan lingkungan dan perampasan ruang hidup. Film ini juga mengangkat keterlibatan militer mengamankan proyek strategis nasional (PSN) Sawit, Tebu, dan food estate.

Pertanyaan mendasarnya mengapa negara dan perangkat keamanan (Tentara) takut pada film ini?.

Bila dijawab, sederhananya negara terutama aparat keamanan takut kejahatan mereka dibongkar. Sebab dengan dalil pengamanan PSN mereka terlibat secara aktif melegalkan perampasan ruang hidup dan perusakan lingkungan. Mereka terlibat penuh menyokong kekuasaan membunuh, merampas dan merusak alam serta hak ulayat masyarakat adat Papua.

Ironisnya belakangan, publik dihebohkan dengan munculnya video tokoh masyarakat adat Papua, Yasinta Moiwen. Dalam video singkat itu, salah satu tokoh adat Perempuan dan pemeran film Pesta Babi tiba-tiba mengaku tidak mengetahui dirinya dilibatkan atau direkam dalam film dokumenter tersebut.

Cuplikan video ini lalu viral di media sosial. Aktor yang membahasnya sudah pasti buzzer yang dibayar negara mengcounter isu keterlibatan militer dan upaya negara menghancurkan alam Papua demi ambisi transisi energi palsu.

Namun demikian, klarifikasi mama Yasinta Moiwen yang berbanding terbalik dengan gerakannya memperjuangkan ruang hidup, menunjukkan ada tekanan militer saat mengambil video tersebut. Sebab sebelum video Mama Yasinta viral dan jadi bahan kampanye buzzer, tokoh adat tersebut hadir dalam peluncuran perdana film dokumenter di Youtube JUBITV.

Yah kita tau, kasus demikian bukan yang pertama terjadi di Indonesia teman-teman yang budiman. Sebab negara memang sejak lama selalu menciptakan opini publik, dan membantah perbuatan buruknya dengan cara-cara kotor, seperti mengancam dan menekan, bahkan menghilangkan.

Mirisnya isu ini digiring hingga ke pendanaan produksi film dokumenter pendanaannya dianggap melegalkan kepentingan asing. Padahal faktanya negara justru lebih banyak melegalkan kepentingan asing di banyak proyek nasional Indonesia, bahkan banyak dapat bantuan asing. Lalu siapa sebenarnya antek asing?.

Buzzer bangsat yang dibayar ini terang-terangan membangun narasi kotor, seolah film tersebut mengorbankan orang asli Papua. Namun, upaya memhangun narasi tandiangan atas fakta tersebut dapat kita baca sebagai ketakutan negara atas perbuatan jahat mereka. Ini bukan hanya terjadi di Papua, tapi model demikian telah lama dipraktekkan.

Pada akhirnya kita dapat berkesimpulan bahwa situasi demokrasi Indonesia sedang terancam. Karena ketika kritik dilarang, diskusi dan nobar dibubarkan menandakan otoriterisme militer secara nyata mulai eksis lagi. (*)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polres Pulau Taliabu Gelar Pengobatan Gratis

    Polres Pulau Taliabu Gelar Pengobatan Gratis

    • calendar_month Sen, 15 Jun 2026
    • account_circle Hasman Sangaji
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Bobong, majangpolis.com – Polres Pulau Taliabu menggelar kegiatan bakti kesehatan berupa pengobatan gratis dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80. Kegiatan yang mengusung tema “Polri untuk Masyarakat” tersebut berlangsung di halaman Mapolres Pulau Taliabu, Senin (15/6/2026). Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kapolres Pulau Taliabu AKBP Adnan Wahyu Kashogi, Ketua Bhayangkari Cabang Pulau Taliabu Ny. Desi Adnan, […]

  • Banjir dan Tanah Longsor Landa Halmahera Barat

    Banjir dan Tanah Longsor Landa Halmahera Barat

    • calendar_month Rab, 7 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 322
    • 0Komentar

    Jailolo, majangpolis.com – Sejumlah desa di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara terendam banjir akibat hujan deras, Rabu (7/1/2026). Peristiwa itu terjadi di sejumlah desa di Kecamatan Ibu khususnya di Desa Kampung Cina, Tabaru, dan Tongute Ternate. Ketinggian air terus bertambah karena hujan masih mengguyur pada pukul 7 pagi yang mengakibatkan tanggul dan bronjong jebol. […]

  • Sultan Hidayatullah Sjah II Lantik Alfian Wakanubun sebagai  Morinyo Kie

    Sultan Hidayatullah Sjah II Lantik Alfian Wakanubun sebagai Morinyo Kie

    • calendar_month Rab, 7 Jan 2026
    • account_circle Ismet Alkatiri
    • visibility 356
    • 0Komentar

    Ternate, majangpolis.com — Kolano Moloku Kieraha Buldan Ternate, Sultan Hidayatullah Sjah S.I.P, M.A.P melantik H. Alfian Wakanubun, SH sebagai Morinyo Kie, pejabat Kesultanan urusan Penghubung Eksternal. Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan oleh Sultan Hidayatullah II disaksikan para Komisi Ngaruha, Bangsa Madopolo, para Bobato Dunia, Bobato Akhirat dan sejumlah undangan serta keluarga. Pelantikan Morinyo Kie Kesultanan […]

  • Kapolri Lakukan Rotasi Besar-besaran, Ini Daftar Perwira Baru di Jajaran Polda Maluku Utara

    Kapolri Lakukan Rotasi Besar-besaran, Ini Daftar Perwira Baru di Jajaran Polda Maluku Utara

    • calendar_month Jum, 26 Jun 2026
    • account_circle Ikram Salim
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Ternate, majangpolis.com – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo kembali melakukan penyegaran organisasi melalui mutasi dan rotasi besar-besaran di tubuh Korps Bhayangkara pada periode Juni 2026. Kebijakan strategis ini tertuang dalam sejumlah Surat Telegram (ST), di antaranya ST/1338/VI/KEP/2026 dan ST/1339/VI/KEP/2026 yang diterbitkan pada 25 Juni 2026. Secara nasional, terdapat 1.121 personel yang dimutasi, di mana […]

  • Diduga Aniaya Warga, Kades Gamsungi Dilaporkan ke Polres Halmahera Barat

    Diduga Aniaya Warga, Kades Gamsungi Dilaporkan ke Polres Halmahera Barat

    • calendar_month Ming, 5 Apr 2026
    • account_circle Ikram
    • visibility 265
    • 0Komentar

    Jailolo, majangpolis.com – Dugaan tindak penganiayaan di Desa Gamsungi, Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera Barat. Peristiwa tersebut menimpa Rendi, warga Kelurahan Marikurubu, Kota Ternate dan kini telah dilaporkan ke Polres Halbar oleh korban melalui kuasa hukumnya. Kuasa hukum Rendi, Dealfrit Kaerasa mengungkapkan, insiden bermula pada Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 22.00 WIT. Saat itu, Rendi bersama […]

  • Diklat Calon Paskibraka Kabupaten Sula Mulai Dilaksanakan

    Diklat Calon Paskibraka Kabupaten Sula Mulai Dilaksanakan

    • calendar_month Ming, 19 Jul 2026
    • account_circle Sahbudin Yunus
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Sanana, majangpolis.com – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, telah melaksanakan upacara pembukaan pendidikan dan pelatihan (Diklat) bagi calon Paskibraka tahun 2026. Kegiatan upacara diselenggarakan di halaman Istana Daerah (Isda) Kepulauan Sula yang dipimpin Sekretaris Daerah Kepsul, Muhlis Soamole, Minggu (19/7/2026). Muhlis Soamole mengatakan, mendorong para peserta dapat mengikuti pelatihan […]

expand_less